Kamis, 29 Maret 2018

Sudut Penuh Ilmu


Pagi itu kami sudah berusaha mengkondisikan anak-anak sedemikian rupa. Tapi namanya anak-anak tetaplah anak-anak. Kesana kemari seolah tak henti. Wah kapan selesainya nih...

Akhirnya kamipun baru bisa berangkat sekitar pukul setengah sembilan padahal layanan SIM keliling yang ada di Bunderan UGM buka pukul 09.00-12.00. Bisa kehabisan formulir....

Sabtu itu aku harus perpanjangan SIM C, sudah hampir habis masa berlakunya. Untuk memudahkan warga, Polda DIY telah membuka layanan SIM keliling di beberapa tempat umum. Salah satunya adalah di area Bunderan UGM yang paling dekat kalau ditempuh dari arah utara, tempat kami tinggal. Hanya saja disana menyediakan formulir yang terbatas jumlahnya, satu hari 100 formulir saja. Siapa cepat dia dapat, apalagi hari Sabtu begini banyak yang libur, pasti banyak yang mengantri. Betul juga, setibanya kita disana formulir sudah habis.
Ah anak-anak kami tidak menyalahkan kalian. Sudah semaksimal mungkin kita persiapkan, dan tidak begitu siang juga kita sampai disana. Tapi mungkin belum rejeki kita.

Kemudian kita diarahkan untuk menuju SIM Corner Ramai Mall Malioboro. Disana buka lebih siang, yaitu pukul 10.00. Saat itu jam menunjuk pukul 09.30, yup langsung lah kita meluncur ke Ramai Mall Malioboro. Yeeaaa anak-anak malah gembira karena saatnya jalan-jalan hingga sudut Jogja Selatan.
Ayo anak-anak kita lanjutkan perjalanan kita....

Macet...pasti! Apalagi banyak antrian bis menuju tempat wisata. Celoteh anak-anak mulai terdengar. "Wahh bisnya besar ya bu", "Banyak bangeeet...", "Ada kudaaa...", mereka terus dan terus berceloteh ala anak-anak.

Sampailah kita di tempat tujuan, yaitu SIM Corner Ramai Mall. Meski loket baru di buka sepertinya sudah banyak antrian, tapi tenanglah kita tidak kehabisan formulir disana.
Segera aku mengumpulkan SIM ku yang lama lalu duduk di tengah antrian dan menunggu panggilan.

Tempatnya luas tapi tidak begitu asyik untuk anak-anak. Bosan....yaa anak-anak mulai bosan. Apalagi mainan yang mereka bawa dari rumah tertinggal di parkiran. Mereka pun segera mencari yang menarik perhatian. Ahaa ada koran bekas yang ditinggal oleh pemiliknya, diambilnya beberapa lembar dan jadilah pesawat dari koran....


Anak-anak sepertinya sudah mulai menikmati suasana di tengah antrian, Alhamdulillah.
Namaku mulai dipanggil petugas, akupun masuk dan kembali antri di bagian cek kesehatan. Lalu bergeser menunggu di loket pembayaran. Setelah itu aku menerima formulir yang telah dibubuhi nomor urut oleh petugas. Aku pun keluar ruangan tersebut lalu kuisi formulir di tempat yang sudah disediakan.

Dua anakku yang kecil berlari kesana kemari sambil membawa pesawat koran buatan kakaknya. Sedang anakku yang pertama asyik membuat beberapa pesawat dari koran untuk kedua adiknya. Ah lega rasanya melihat mereka tidak rewel.

Setelah mengisi formulir akupun kembali menunggu untuk dipanggil sesuai nomor yang telah aku terima di atas formulir.


Nomor antri 31, ternyata lumayan menunggu lama untuk nomor urut itu. Hampir masuk waktu dhuhur aku baru dipanggil. Kemudian aku mengantri kembali untuk pas foto terbaru. Dan setelah rangkaian tersebut kulewati, terakhir aku kembali menunggu SIM terbaruku jadi.
Adzan dhuhur sudah terdengar. Alhamdulillah tempat itu tersedia musholla sehingga kita bisa shalat terlebih dahulu sembari menunggu SIM jadi.
Kali ini anak-anakku sudah mulai terlihat gelisah. Sabarlah nak....tinggal sebentaar lagi ya. Nanti keluar dari tempat ini kita jalan-jalan sebentar sambil lihat kuda ya...
Asyiiik teriak mereka....

Alhamdulillah SIM baruku sudah jadi. Selesai sudah seluruh rangkaian perpanjangan SIM di Ramai Mall itu. Terimakasih pak dan bu polisi untuk kerjasamanya....


Segera kami meninggalkan sudut itu....
Sudut yang membutuhkan pelajaran berharga untuk anak-anakku. Melatih keSABARan yang cukup lumayan juga. Karena antrian dan proses yang cukup lama dan membosankan.

Oke anak-anak seperti janji kita, mumpung kita berada di sudut selatan Jogja. Yuk kita jalan kaki menuju Malioboro....


Sepertinya kita sudah berada di tiga perempat dari ujung jalan Malioboro. Keluar Ramai Mall sudah melewati beberapa tempat. Lebih dekat dengan pintu Pasar Beringharjo. Namun sudah terasa sekali ramai khas hawa Jogja. Walau hanya dari sebagian sudut saja. Bergai macam bentuk kehidupan ada di sana. Mulai dari pedagang hingga penjual jasa. Salah satu sudut Jogja yang tak pernah sepi.

"Kok kita nggak dari ujung?",
Nak...jalan ini terlalu panjang untuk ditempuh kaki kecilmu, nanti kamu capek kalau harus balik ke ujung terlebih dahulu. Dari sudut sini saja kalian sudah bisa belajar banyak hal. Itu dia kuda yang ingin kalian temui, banyak dan besar bukan? Nah sekarang coba lihatlah pak kusir yang setia menunggu penumpang datang. Betapa sabarnya mereka. Belum tentu kalau sedang sepi ada penumpang yang mau naik. Demi keluarga mereka rela menunggu dan menunggu.


Lalu di ujung sana ada pak becak yang sedang mengantar penumpang. Mereka hanya bermodal becak tua mengayuh dan terus mengayuh ke tempat yang dituju. Panas dan hujan tidak mereka pedulikan. Luar biasa sekali bukan usaha mereka.


Sepanjang jalan Malioboro ini banyak terdapat tempat duduk untuk bersantai. Kami beristirahat sejenak diantara para pedagang kaki lima. Nak...dari ujung ke ujung penuh dengan pedagang kaki lima yang menggelar dagangan mereka di trotoar jalan. Beraneka ragam dagangan khas Jogja yang mereka jual. Berharap wisatawan mampir dan membelinya. Pagi-pagi mereka telah bersiap. Terkadang banyak yang laku terkadang hanya sedikit. Tak apa yang penting barokah. Mereka tidak bosan menawarkan dagangan mereka kepada setiap yang lewat. Dengan senyuman dan kegembiraan memenuhi setiap langkah dan usaha mereka. Sungguh besar sekali makna sebuah perjuangan hidup.


Bergeraklah kami ke arah simpang pasar Beringharjo. Tepatnya di pintu pasar sebelah parkir Masjid Al Ikhlas. Ada seorang nenek penjual sate gajih. Sudah begitu menua usianya. Dari dulu sampai sekarang seolah tak bosan berjualan sate gajih di tempat yang sama. Sambil menikmati masa tua, nenek ini dengan sabar melayani para pembeli yang sudah mengantri. Sate gajih ini merupakan salah satu makanan khas pasar Beringharjo. Nikmat sekali, tapi untuk orang dewasa harus dapat mengendalikan diri untuk menikmatinya, karena punya tingkat kolesterol yang cukup tinggi.


Dari apa yang kita temui di sudut jalan tadi kalian bisa banyak belajar nak. Belajar melihat kenyataan hidup di luar sana yang sangat beragam. Penuh dengan perjuangan hidup. Kiranya kalian sangat bersyukur dengan apa yang Allah berikan atas diri kalian sekarang. Tidak sekuat perjuangan orang-orang yang ada di sudut ini. Syukur Alhamdulillah itulah yang harus kita lakukan.

Sudut penuh ilmu. Hanya berada di beberapa sudut saja banyak sekali yang kita dapatkan bersama. Mulai dari belajar sabar menunggu antrian hingga belajar dari ragam kehidupan di sepanjang sudut yang kita lewati. BERSYUKUR kepada Allah atas apa yang kita dapat dari Nya. Allah telah memberikan kehidupan masing-masing hamba Nya dengan nikmat dan karunia Nya. Meski jalan yang dilalui berbeda-beda tapi yakinlah banyak hikmah dan anugerah yang luar biasa pula yang Allah limpahkan kepada tiap jalan kehidupan manusia.
Percayalah nak....Allah telah mengatur semua dengan sangat istimewa.
Kini kalian telah mengerti kenapa kita harus belajar dari sudut yang penuh ilmu.




Jumat, 23 Maret 2018

Satu Keputusan Seribu Makna


Memperoleh pekerjaan yang layak adalah dambaan setiap orang. Begitu banyak keinginan orang untuk dapat diterima bekerja di sebuah instansi atau perusahaan terkemuka. Terkadang sampai rela hijrah ke luar kota bahkan lintas negara untuk menggapai impian mereka. Walau harus meninggalkan keluarga. Ya begitulah dunia. Terkadang sulit dijangkau dengan logika.

Tapi mereka ini bersikap sebaliknya. Berusaha menembus keluar zona istimewa. Dua sahabat hebat yang sama-sama sukses di dunia perbankan dan kesehatan. Dua pekerjaan yang banyak dicari orang. Namun, mereka menempuh jalur berbeda. Mengambil langkah yang sama. Untuk satu tujuan...resign!!

Bukan hal mudah mengambil keputusan itu. Dan kiranya membutuhkan proses yang cukup lama untuk memutuskannya. Karena waktu mengabdi yang tidak singkat. Jam bekerja yang begitu panjang. Butuh pertimbangan matang untuk sebuah keputusan...resign!!

Satu keputusan seribu makna... Anak-anak merupakan satu dari seribu makna tersebut. Satu hal yang begitu besar maknanya. Mungkin waktu yang sedemikian rupa kiranya cukup untuk mengabdikan diri. Bekerja di dunia perbankan membutuhkan durasi yang tidak singkat, bisa sehari penuh terkadang harus lembur. Begitu pula dunia kesehatan yang pengabdianya membutuhkan pemikiran dan energi yang cukup besar. Harus full power dan wonder mom.

Dan inilah satu titik waktu yang memang harus diputuskan. Karena anak-anak yang semakin tumbuh dan berkembang. Menjadi satu pertimbangan besar. Mungkin ini memang satu titik saatnya untuk lebih membersamai anak-anak. Sebuah realita hidup yang begitu beragam. Keputusan yang langka diambil oleh seseorang. Bukan tanpa pengorbanan, melainkan sebuah pilihan besar antara pengabdian dan tanggung jawab. Dan bukan tanpa resiko, melainkan tantangan untuk menempuh babak berikutnya yang lebih luar biasa.

Dan ketika waktu itu pun tiba. Luar biasa, dua sahabat hebat, yang cerdas dan sukses telah mengambil satu keputusan besar. Keputusan yang luar biasa butuh pengorbanan. Subhanallah!! Satu keputusan seribu makna...

Sebuah babak baru dimulai. Dua sahabat hebat mulai merintis karir baru. Karir yang bisa dikerjakan di rumah sambil membersamai anak-anak. Sesuatu yang tidak mudah. Dua sahabat hebat yang ternyata mempunyai bakat tersembunyi. Selain kemampuan mengabdi selama ini, tersembunyi bakat wirausaha. Luar biasa!! 

AINIMART...
Kiranya dunia perbankan cukup membuatnya belajar. Mengatur keuangan sudah jadi keahliannya. Dan hal ini diterapkan dalam bisnisnya sekarang. Bisnis mengikuti jejak Rasulullah... Ainimart...menyediakan sembako dan kebutuhan sehari-hari. Berdiri di garasi rumahnya. Sehingga lebih mudah dalam membimbing dan mengawasi anak-anaknya. Tidak butuh waktu lama untuk berkembang. Hanya hitungan bulan Ainimart sudah cukup sukses di lingkungan kami. Melayani kebutuhan sehari-hari para ibu di sini. Mempermudah akses mendapatkan sembako dan kebutuhan lainnya. Cukup pesat perkembangannya. Alhamdulillah.


DAPUR UMMI...
Sahabat yang satu ini tidak kalah hebat. Berawal dari hobi menyiapkan menu sehat untuk anak-anak. Kini berkembang menjadi usaha kuliner yang menjanjikan. Usahanya ini dikerjakan di rumah sambil membersamai anak-anak. Pizza teflon sehat dan halal, kini jadi menu andalannya. Pizza homemade buatannya tidak kalah dengan pizza keren di luar sana. Yang jelas tidak perlu jauh-jauh untuk memesannya. Harganya pun sangat terjangkau. Selain itu, ada berbagai tepung premix serba guna. Tepung pizza anti gagal, bisa juga dibuat jajanan lain. Sangat praktis dan cocok digunakan ibu-ibu repot seperti aku ini. Mudah, praktis, cepat, dan sehat. Luar biasa!!


Dua sahabat hebat yang menempuh satu keputusan seribu makna. Subhanallah mereka berdua telah mampu membuktikan keputusan mereka. Menjadi ibu yang memiliki predikat plus memang butuh perjuangan dan pengorbanan cukup panjang. Hal ini tidak lain demi mewujudkan anak-anak shaleh dan shaleha penerus cita-cita dunia akhirat.

Teruskan perjuangan kalian ibu hebat...Allahu Akbar!! Tetap semangat dan sukses Ainimart dan Dapur Ummi. Barakallah...


Kamis, 22 Maret 2018

Jejak Sang Biru


Kutelusuri jejakmu...Sang biru.
Ibu yang tangguh.
Pagi-pagi sudah harus mengkondisikan semua, ya rumah, anak-anak, suami, dan juga diri sendiri. Karena semua akan beraktivitas sehari penuh. Hebat!
Putra sulungmu kelas 1 SD, putri kedua masih bayi. Subhanallah tak bisa kubayangkan bagaimana harus mengaturnya setiap pagi. Usia bayi yang seharusnya masih full jam tidur terpaksa harus bangun pagi-pagi untuk menyambut sang bunda berangkat berkarya. Luar biasa!
Anak-anak yang hebat, sedari kecil sudah dididik dengan pengalaman hidup yang mandiri. Semogalah kelak menjadi anak-anak tangguh, mengikuti jejak Sang Bunda.

Untunglah tempat penitipan si kecil tidak jauh dari rumah, hanya tetangga dekat. Sehingga aura rumah masih melekat. Anak yang pintar, anteng dan tidak rewel. Begitupun putra sulungnya sudah mandiri. Setiap pulang sekolah hanya sendiri di rumah. Sebelum jam empat sore dia istirahat, setelah jam empat sore barulah bermain. Betul-betul sudah dididik mandiri, dia pun selalu menuruti apa yang jadi pesan bundanya.
Anak-anak yang hebat! Belum tentu anak-anakku bisa dikondisikan seperti itu.
Situasi dan kondisi memang berpengaruh dengan pola asuh. Dan bunda yang beraktivitas di luar rumah memang cenderung memiliki anak-anak yang cepat mandiri.

Setelah mengkondisikan putra putrinya, lanjutlah dengan aktivitas karya. Puluhan kilo kau tempuh untuk menuju lapangan. Kadang di kebun, sawah, bahkan hutan. Tak ku bayangkan medannya. Itu kau lakukan setiap hari.
Ah mungkin jarak tidak sebanding ketika kau dulu masih aktif mendaki. Hanya mungkin kondisi saja yang membedakan. Kalau dulu setiap jejakmu hanya dilalui seorang diri. Seberapapun jauh tak terbebani tanggung jawab. Kini setiap jejakmu dilalui bersama keluarga. Ada keluarga yang menanti di rumah. Jejakmu sekarang terbatas oleh ruang dan waktu.
Walau semangat menapaki jejak masih tak terbatas, masih luar biasa. Jejak sang biru...

Menyongsong matahari di ujung bukit. Mengantar matahari di lembah sungai. Itulah jejak yang dulu. Yang mungkin sampai kini masih kau rindu. Bertemu sang alam menakluk jejak.


Kini jejakmu masih biru. Dan akan terus biru. Sebiru langit di puncak Semeru. Wajah indah sang biru yang tak bisa lepas dari setiap langkah.
Langkah yang kini berbeda, namun jejak masih tetaplah sama.
Jejak sang biru....

Semogalah selalu sebiru jejak di atas awan yang sering kau pandang kala itu.
Jejak yang tak pernah hilang. Selangkah kehidupanmu kini semoga selalu dalam langkah yang teriring doa, langkah yang mengiringmu setiap waktu bersama biru-biru kecil di kaki Merapi. Tempatmu kini....
Tetaplah melangkah dengan semangatmu.... Jejak sang biru....

#teruntukbundasibling#ru

Selasa, 20 Maret 2018

Dunia Anak Islam #Tiga Kepompong


Mereka masih kepompong...
Yang butuh proses untuk menjadi indah.
Yang butuh bimbingan untuk menjadi lebih baik.
Yaaa tiga kepompong yang berusaha melangkah bersama.


Awalnya kami menganggap mereka hanya anak-anak biasa yang sedang bertumbuh. Tumbuh diantara sosialisasi hidup yang semakin dewasa. Kami membiarkan mereka untuk memilih. Bersosialisasi yang mereka mampu. Mampu untuk bersatu. Melangkah dan bekerjasama dengan hati. Serta belajar untuk bisa melihat dunia lebih dekat.


Anak-anak yang hebat adalah yang bisa belajar dari kehidupan dunia. Bersatu untuk melihat alam serta dekat dengan Tuhan. Anak-anak yang hebat adalah yang bisa tumbuh dengan karakter luhur. Bisa menyikapi kehidupan dengan bijaksana. Begitulah harapan kami kepada para kepompong.

Seiring berjalanya waktu, ternyata karakter tidak bisa dipaksakan. Dan akhirnya mereka bertiga tanpa sadar merapat dengan hati yang sama.
Bermain dan belajar hal yang baru. Jarak usia tak jadi penghalang. Apapun permainan mereka seolah tak jadi masalah.
Outdoor maupun indoor tetap jadi tempat yang asyik.
Ah sayang sekali kami kurang peka untuk mengabadikan moment-moment kala itu.

Kami hanya berusaha mengawasi agar mereka tetap ada pada lingkungan tempat tinggal kami. Sebuah perumahan yang tidak begitu luas tapi in sya allah tetap asyik untuk menjadi area permainan anak-anak.
Tetap ada sudut-sudut yang bisa dinikmati dengan berbagai ekspresi mereka.
Selama tidak berbahaya kami biarkan para kepompong ini bertumbuh dan berkreasi.

Tiga kepompong dengan karakter yang bisa bersatu. Yaa begitulah kiranya, sehingga selama bersama pun mereka saling mengisi. Bisa dibilang aman terkendali.
Mereka hanya berputar-putar di area perum kami. Sangat mudah mencari mereka. Mereka jarang keluar dari batas perumahan.

Begitu banyak anak-anak disini, dan ternyata mereka memang memilih untuk menempuh bertiga dengan keasyikan bermain yang berbeda dengan yang lain.
Mereka ini cenderung bermain ala-ala petualang ringan. Mereka tidak begitu menyukai yang terlalu ekstrim. Dan kalau mereka berada di indoor mereka bak pendongeng yang senang berkhayal. Dengan gaya masing-masing yang bagi kita orang tua sedikit aneh, tapi bagi mereka itulah dunia mereka, dunia anak yang penuh khayalan.

Semakin sering mereka bersama, seolah waktu istirahat pun terkadang mereka abaikan. Tapi yang pasti kami tanamkan agar tidak meninggalkan shalat. Alhamdulillah halaman masjid termasuk tempat favorit mereka. Sehingga ketika mendengar suara adzan kami bisa dengan mudah menggiring mereka ikut jamaah. Senangnya kalau mereka selalu taat.
Tiga kepompong yang sedang bertumbuh....

Seakan tak mau kehilangan semenit pun waktu berharga untuk mengungkapkan khayalan dan petualangan ala-ala mereka.
Terserah kalian lah nak kanak asal masih di area positif kami tidak begitu khawatir.

Hari demi hari keceriaan pun semakin terisi dengan canda tawa, yang mungkin bagi orang dewasa itu bukan hal yang penting, tapi bagi mereka itu adalah sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang selalu diekspresikan dan dibagikan dengan yang lain.
Semoga lah dengan begitu kalian bisa berbagi hal yang berguna kelak, aamiin.

Apapun bisa jadi arena yang menarik, bermain mobil-mobilan, bola, sepeda, sampai prosotan pasir pun serasa istimewa hingga tak tuntas kalau belum mendengar adzan maghrib.
Ah kalian memang kepompong yang bertumbuh dengan ceria dan kreatif. Apapun bisa jadi hal yang menyenangkan kalau sedang bersama.
Asalkan ketika mendengar adzan harus langsung berhenti dan shalat terlebih dahulu ya anak-anak...
Kepompong yang semakin bertumbuh....

Sampai pada suatu ketika, salah satu diantara kepompong ini harus hijrah. Ya dia harus ikut kedua orang tuanya untuk pindah ke luar kota.
Disaat sedang asyik-asyiknya menikmati kebersamaan, mereka harus merelakan satu kepompong untuk bertumbuh di tempat yang berbeda.
Suatu hal yang mengejutkan.
Kehilangan pastinya...
Kesepian tentunya...
Ketika hanya berdua terkadang terselip rindu bertiga.
Semogalah satu kepompong bisa tumbuh indah di sana. Dan tidak lupa dengan kepompong yang tertinggal.
Kepompong yang semakin dan semakin bertumbuh....

Mungkin ini pelajaran baru bagi tiga kepompong, pelajaran untuk tetap menjadi sahabat disaat jauh. Pelajaran bagaimana arti sebuah kesetiaan dan lebih menyayangi sesama. Meski di sini tinggal berdua seolah tak datang kepompong baru. Hanya tinggal berdua dan selalu rindu kepompong yang hijrah.


Hari-haripun terlewati kembali dengan berdua kepompong disini dan satu disana. Menjalani rutinitas masing-masing. Begitupun dua kepompong disini seolah tak menemukan ganti, sampai hanya berdua dan berdua...belajar tumbuh dan tumbuh....

Hingga suatu hari mereka dipertemukan kembali dengan kepompong yang jauh. Ah betapa senang melihat wajah mereka bertiga setelah sekian lama tidak bersua. Walau hanya beberapa saat saja waktu itu terasa istimewa. Namun perpisahanpun kembali terjadi. Lagi-lagi kami tidak sempat mengabadikan mereka bertiga.
Mereka berjanji untuk saling setia hingga saat bertemu lagi.
Kepompong yang semakin dan terus bertumbuh....

Walau harus bertumbuh ditempat yang berbeda. Semoga tiga kepompong bisa sama-sama bermetamorfose menjadi kupu-kupu yang indah. Hingga kelak bertemu kembali tak kan melupakan saat ketika mereka masih sama-sama menjadi kepompong....








Selasa, 13 Maret 2018

My Trip My Adventure #Menembus Jalur Krakal Beach


Trip kali ini kita menuju...
Krakal Beach...
Sebetulnya merupakan rangkaian dari tadabur alam. Dalam rangka mendekatkan anak-anak dengan alam. Sekaligus para orang tua melakukan trip menantang menuju ke pantai tersebut.
Perjalanan yang tidak direncanakan sebelumnya biasanya malah lebih asyik dan meninggalkan kesan mendalam.

Di era kekinian kita sering kali menghubungkan dengan teknologi yang update. Nah kami mencoba untuk keluar dari jalur tersebut. Untuk penyelanggaraan pendidikan kami mengangkat alam sebagai media pembelajaran dalam keluarga kami. Di tengah teknologi yang semakin meraja anak-anak, kami mencoba menyeimbangkan dengan alam. Cara ini diharapkan dapat melatih anak-anak agar bisa lebih dekat dengan Tuhan sehingga tercipta pendidikan karakter yang bijak.

Dan inilah my trip my adventure kami....
Menembus jalur Krakal Beach....


Perjalanan dimulai dari Grogol Wonosari Gunung Kidul. Dengan bekal kendaraan seadanya kami mencoba menyusuri jalan alternatif melewati daerah Tepus.
Dengan harapan medan disana tidak terlalu menanjak dan curam. Dan juga tidak padat oleh kendaraan lain.

 https://www.google.co.id

Ini adalah salah satu jalan alternatif menuju ke Krakal Beach. Menurut info jalur ini tidak padat dan tidak begitu menanjak dibanding jalan lain menuju ke sana.
Mengingat kendaraan kami hanya memiliki nafas tua, sehingga harus mencari jalur yang paling minim resiko menanjak yang terlalu curam.
Nafas tua semangat muda, yaaa begitulah moto kami. Dan yang jelas modal kami adalah semangat untuk anak-anak menuju Krakal Beach. Walau harus mencari jalur yang memungkinkan kami untuk bisa sampai di sana.

Anak-anak pun sudah kami persiapkan mental sebelum berangkat, sehingga tidak rewel ketika kami mendapati jalur yang kurang bersahabat.
Kami berangkat beramai, lima dewasa, dan enam anak-anak. Sepertinya kendaraan sarat muatan. Ah kami tidak begitu peduli, karena kami sudah siap yang akan terjadi di jalur menuju kesana. Mendorong dan mengganjal kendaraan dengan batu sudah kami bayangkan sebelumnya. Wooow sepertinya cukup menantang bak uji nyali di televisi. Terutama untuk driver tercinta...pakne anak-anak, kalau bisa menembus jalur ini SIM nya dapat predikat A plus. Dan para bodyguard yang super strong...kalian hebaaat.
Yang pasti anak-anak jadi motivasi kami. In sya allah jalur alternatif ini bisa kita tembus bersama. Demi memfasilitasi belajar anak-anak, untuk bertemu dan berkenalan dengan sahabat alam mereka...beach....

Subhanallah...
Apa yang kita bayangkan sebelumnya benar. Beberapa tanjakan yang lumayan terlihat di depan. Beraksilah driver dan para bodyguard. Alhamdulillah ada beberapa pengendara motor yang tengah lewat rela turun dan menolong kami mendorong kendaraan.

Satu...dua...tiga...empat...tanjakan demi tanjakan kami lewati dengan penuh perjuangan.
Dan akhirnya....
Bertemulah kami dengan yang kami tuju....
Yaaa benar ituuu....Krakal Beach...


Alhamdulillah akhirnya sampai juga kami disini. Tempat dimana keindahan alam terhampar di depan mata.
Ah sejenak mari kita lupakan jalur penuh perjuangan itu. Mari kita ajak anak-anak untuk belajar. Belajar banyak hal bersama alam. Yang kaya makna.


Nikmatilah keindahan Krakal Beach anak-anak....belajarlah banyak hal disana...pasir, ombak, kalian juga bisa bercanda dengan ikan-ikan kecil...Subhanallah....
Dengan alam semoga kalian bisa jadi pribadi yang kreatif, bisa bekerjasama, shaleh dan shaleha, pandai bersyukur, serta sayang terhadap sesama dan makhluk lain disekitarnya. Aamiin Yaa Rabb.

Untuk perjalanan pulang....kita pikirkan nanti ya anak-anak....
Yang terpenting adalah kalian bisa menikmati alam, belajar, dan bermain dengan alam sampai tuntas.


Dalam rangka mendukung pendidikan, kami sengaja mengangkat alam sebagai media untuk memfasilitasi anak-anak kami belajar dan menyikapi hidup. Di tengah teknologi yang semakin maju dan berkembang, kami yakin alam mampu memberikan pendidikan karakter yang tidak kalah dengan teknologi. Tujuan kami adalah apabila pendidikan karakter sudah terbentuk, maka untuk menghadapi teknologi ini in sya allah anak-anak bisa lebih siap. Kita doakan saja yang terbaik, aamiin.
Kami yakin dengan menumbuhkan sikap cinta alam, anak-anak diharapkan bisa lebih mengendalikan emosi sehingga terbentuk pribadi yang bijak. Bijak dalam segala hal kehidupan. Allahuma Aamiin...

Peran orang tua dalam pendidikan anak memang sangat besar. Sehingga diharapkan mampu menjadi pendukung dan fasilitator pendidikan. Walau harus melalui jalan dan proses yang membutuhkan perjuangan sekalipun. Jadilah orang tua tangguh. Jadilah orang tua hebat.
Karena tanpa dukungan penuh dari orang tua, anak-anak tidak akan sanggup menapaki era kekinian ini. Karena dukungan orang tua merupakan arah yang akan menuntun anak-anak menuju keberhasilan meraih kesuksesan hati dan jiwa. Yaa kesuksesan membentuk pribadi yang berkarakter luhur. Pribadi yang berakhlak mulia.
Maka dari itu ayah...ibu...marilah kita sama-sama membimbing dan membersamai anak-anak kita dengan arah yang positif, agar terbentuk anak-anak yang shaleh dan shaleha.
In sya allah....

#sahabatkeluarga






Senin, 12 Maret 2018

Dunia Anak Islam #Hikmah Tadabur Alam


Alam memang wahana belajar yang sangat luar biasa untuk anak-anak.
Dengan alam anak-anak bisa mengenal banyak hal.
Dengan alam anak-anak bisa berimajinasi secara positif.
Alam...yaa sesuatu yang tidak membosankan untuk kita bahas.

Tadabur alam adalah salah satu cara agar anak selalu dekat dan dekat dengan alam.
Banyak hikmah dibalik bertadabur dengan alam, terutama untuk anak-anak.


MELATIH MOTORIK, terutama motorik kasar. Masa pertumbuhan adalah masa yang sangat membutuhkan stimulasi. Dengan tadabur alam diharapkan dapat memberikan stimulasi untuk melatih motorik kasar anak-anak. Melompat, berlari, dll, bisa dilakukan ketika anak-anak bertadabur alam. Asyik dan menyenangkan.

Anak-anak jadi LEBIH MANDIRI. Ketika tadabur alam biarkan anak-anak menyatu dengan alam. Hal ini bisa melatih kemandirian anak. Sehingga diharapkan anak-anak jadi tumbuh sebagai pribadi yang tidak tergantung dengan orang lain.

Ketika bertadabur alam ajaklah anggota keluarga lain atau teman-teman. Sehingga akan tumbuh SEMANGAT BEKERJASAMA dengan yang lain. Alam memang mampu menyatukan makhluknya. Kalau anak-anak kita biarkan bermain di alam dengan yang lain secara tidak sadar rasa saling menghormati dan menghargai akan muncul sehingga terpupuk semangat bekerjasama satu sama lain. Alam memang sejenak menyingkirkan ego anak-anak. Alam betul-betul mampu memberikan aura positif pada anak.



Dengan tadabur alam diharapkan pula tumbuh jiwa KREATIF anak.
Alam selalu mengajak anak-anak untuk bebas berkreasi. Alam tidak membatasi ruang gerak mereka. Sehingga anak-anak yang dekat dengan alam cenderung memiliki tingkat kreatifitas yang bagus.

Ketika anak-anak menyatu dengan alam, akan MENUMBUHKAN KASIH SAYANG baik itu dengan sesama maupun dengan makhluk hidup lain yang terdapat disekitarnya.

Tadabur alam selain dapat LEBIH AKRAB DENGAN ALAM, yang sangat pasti anak jadi LEBIH DEKAT DENGAN TUHAN. Senantiasa jadi PRIBADI YANG SHALEH DAN SHALEHA
yang PANDAI BERSYUKUR dan MENYAYANGI SESAMA.
Subhanallah. Sangat banyak hikmah ketika kita menyatukan anak-anak dan alam.





Kamis, 08 Maret 2018

Dunia Anak Islam #Wajah Pagi di Kaki Merapi



Kami tinggal di Yogyakarta bagian utara. Ya tepatnya di kaki Merapi. Sebagai anak desa, kami sungguh akrab dengan alam. Subhanallah... mungkin cerita ini tidak bisa menggantikan suasana yang sesungguhnya. Sangat indah. Teramat indah untuk dilukiskan dengan kata-kata.

Pagi dan mentari....
Itulah yang selalu kami rindu. Pagi tanpa mentari alam kan bersedih.
Mentari sebagai pelengkap pagi. Bila mentari hadir, goresan alam yang luar biasa akan nampak bersinar.


Merapi...
Kau memang icon kami. Letakmu yang menjulang. Berdirimu yang kokoh. Sangat rupawan diterpa sinar mentari pagi.
Seluruh warga alam bahagia, kala pagi terlihat sempurna.

Anak-anak tak henti menatap keindahan alam ini.
Bersyukurlah nak....
Bersyukurlah kalian....
Dengan kesempurnaan alam Yang Maha Agung.

Bermainlah dibawah indahnya alam. Bermainlah ditengah kehangatan mentari dan senyuman Merapi.
Dan kalian akan temukan ketenangan hati dan rasa syukur yang luar biasa terhadap Sang Pencipta...Ilahi Rabbi.